Madura adalah daerah yang tidak asing bagi masyarakat
Indonesia. Berbentuk kepulauan sendiri tapi masih berstatus wilayah Provinsi
Jawa Timur. Masyarakat Madura terkenal dengan wataknya yang keras, tapi
sesungguhnya watak keras yang dimiliki masyarakat Madura baru hanya akan nampak
kalau sudah berhubungan dengan harga diri. Kalau dalam kesehariannya, sama saja
dengan masyarakat umum, katakanlah yang tinggal di jawa timur.
Pulau Madura yang memiliki julukan “Pulau Garam” memang
terkenal, tapi kalau dengan nama “Pulau Sapudi”, kenalkah anda? Atau minimal
pernah mendengar nama tersebut. Kalau belum, Ok, akan saya kenalkan.
Pulau Sapudi adalah sebuah pulau yang termasuk kepulauan
Madura yang letak geografisnya berada di sebelah timur pulau Madura. Pulau
Sapudi termasuk kabupaten Sumenep. Pulau Sapudi hanya memiliki 2 kecamatan,
yaitu Kecamatan Gayam, dan Kecamatan Nonggunong. Masyarakat Sapudi kebanyakan
berprofesi sebagai petani, nelayan, dan peternak hewan seperti kambing maupun
sapi. Untuk pembangunan di daerah ini, sudah lumayan berkembang. Unit Pelaksana
Pendidikan, Kantor Pos, Bank, PLN, Puskesmas dan sekolah-sekolah mulai dari TK
sampai SMA ada di Sapudi. Kebutuhan akan peralatan maupun material elektronik
dan non-elektronik juga mudah didapatkan, karena sudah ada beberapa toko yang
menyediakan stok yang didatangkan dari daratan, semisal daerah jawa maupun madura.
Hasil pertanian yang paling diandalkan di Sapudi adalah
Sukun dan Jagung. Di daerah ini, Sukun menjadi tanaman komoditi untuk
dipasarkan di luar Sapudi, karena tempat tumbuhnya Sukun ya di daerah Sapudi.
Oleh masyarakat Sapudi, sukun bisa dijadikan sebagai “Kepeng” (makanan ringan
sejenis kerupuk). Ada juga varietas sukun di Sapudi yang tidak cocok untuk
diolah jadi “Kepeng”, yaitu Sukun Palotan. Jenis sukun ini lebih cocok diolah
dengan cara di-rebus. Hasilnya akan seperti singkong rebus. Rasa sukun palotan
ini manis, dan makan beberapa buah saja sudah cukup mengenyangkan. Sukun bisa
dijadikan oleh-oleh kalau kita datang ke Pulau Sapudi.
Di Sapudi, listrik hanya hidup 12 jam saja, yaitu mulai jam
17.00 sampai 05.00 WIB. Tapi untuk perkantoran seperti bank, kantor pos,
puskesmas, memiliki mesin diesel sendiri untuk digunakan ketika pagi sampai
sore hari. Walaupun hanya 12 jam, masyarakat Sapudi tetap senang, karena masih
bisa merasakan terangnya rumah mereka ketika malam hari. Baru-baru ini ada
kabar tentang rencana untuk menjadikan listrik Pulau Sapudi menjadi 24 jam,
syaratnya adalah seluruh pelanggan PLN harus mau mengganti Kwh meternya menjadi
KWh meter prabayar. Hal itu didasari alasan agar tidak ada tunggakan rekening
listrik.
Pantai di Pulau Sapudi masih sangat asri dan bersih. Dengan
pasirnya yang putih, menambah indah tepi laut di Pulau Sapudi.
Untuk menuju Pulau Sapudi, ada 2 pilihan transportasi, yaitu
Kapal Laut dan Perahu Motor. Tempat pemberangkatan bisa melalui Pelabuhan
kalianget (Sumenep), Pelabuhan Kalbut dan Pelabuhan Jangkar (Situbondo). Untuk
transportasi Kapal Laut jumlah penyebrangannya tidak sebanyak perahu motor,
karena hanya beroperasi pada hari tertentu saja, yaitu 2x dalam seminggu. Tapi,
ada tidaknya transportasi menuju Sapudi, tergantung cuaca. Kalau cuacanya
kurang bagus, seperti angin kencang dan ombak besar, Kapal Laut maupun perahu
motor tidak akan ada yang berangkat, hingga cuaca kembali normal.
Ok, saya rasa cukup segitu dulu aja perkenalan dengan Pulau
Sapudi. Lain kali bisa kita teruskan lagi. Masih banyak cerita-cerita tentang
Pulau Sapudi. Ditunggu saja cerita selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar