Seseorang yang sudah memasuki
usia yang tergolong uzur, seharusnya lebih banyak beristirahat, menikmati
sejenak masa tuanya, karena sudah beerpuluh-puluh tahun bekerja mencari nafkah.
Tenaga yang tersisa sudah tidak mampu mengimbangi niat untuk terus dapat mencari
nafkah. Tapi, Nazar, seorang kakek yang berusia 70 tahun mengalami kondisi yang
berbeda. Di usianya yang uzur, seharusnya ia bisa sedikit bersantai, mengemong
cucu, dan menikmati masa tuanya. Tapi, kondisi ekonomi merampas haknya, ia
harus terus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, minimal mendapatkan
sepiring nasi. Ia hidup sebatang kara, istrinya sudah lama meninggal, dan ia
tidak dikaruniai anak. Untuk mencukupi kebutuhannya, Ia mengumpulkan daun jati di
pekarangan milik tetangganya, untuk ia jual di pasar. Walapun hasilnya tak
seberapa, Ia tetap bersemangat dan terus berharap nasib baik memayunginya.
Dia punya prinsip, selama
masih ada tenaga tersisa dalam tubuhnya, ia akan berusaha untuk memenuhi
kebutuhannya dengan bekerja, ia tidak mau terlalu dikasihani, ia tidak mau
sampai harus merepotkan orang lain, misalnya meminjam uang. Dia berkata “Saya
Malu kepada Tuhan, kalau tidak berbuat apa-apa. Kondisi Fisik saya masih
lengkap, berarti Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada saya untuk
menggunakan karunia-Nya”.
Perkataan sederhana dari
orang yang sadar akan karunia-Nya, bersyukur dan terus berusaha tanpa berpangku tangan pada
orang lain. Bisakah kita bersikap seperti kakek tersebut, untuk selalu
mensyukuri karunia-Nya dan terus menjadi pribadi yang tangguh untuk menjalani
segala rintangan dan persoalan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar