Jumat, 20 Januari 2012

Renungan : Saya Malu kepada Tuhan, Kalau Tak berbuat apa-apa


Seseorang yang sudah memasuki usia yang tergolong uzur, seharusnya lebih banyak beristirahat, menikmati sejenak masa tuanya, karena sudah beerpuluh-puluh tahun bekerja mencari nafkah. Tenaga yang tersisa sudah tidak mampu mengimbangi niat untuk terus dapat mencari nafkah. Tapi, Nazar, seorang kakek yang berusia 70 tahun mengalami kondisi yang berbeda. Di usianya yang uzur, seharusnya ia bisa sedikit bersantai, mengemong cucu, dan menikmati masa tuanya. Tapi, kondisi ekonomi merampas haknya, ia harus terus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, minimal mendapatkan sepiring nasi. Ia hidup sebatang kara, istrinya sudah lama meninggal, dan ia tidak dikaruniai anak. Untuk mencukupi kebutuhannya, Ia mengumpulkan daun jati di pekarangan milik tetangganya, untuk ia jual di pasar. Walapun hasilnya tak seberapa, Ia tetap bersemangat dan terus berharap nasib baik memayunginya.

Dia punya prinsip, selama masih ada tenaga tersisa dalam tubuhnya, ia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan bekerja, ia tidak mau terlalu dikasihani, ia tidak mau sampai harus merepotkan orang lain, misalnya meminjam uang. Dia berkata “Saya Malu kepada Tuhan, kalau tidak berbuat apa-apa. Kondisi Fisik saya masih lengkap, berarti Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada saya untuk menggunakan karunia-Nya”. 

Perkataan sederhana dari orang yang sadar akan karunia-Nya, bersyukur  dan terus berusaha tanpa berpangku tangan pada orang lain. Bisakah kita bersikap seperti kakek tersebut, untuk selalu mensyukuri karunia-Nya dan terus menjadi pribadi yang tangguh untuk menjalani segala rintangan dan persoalan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar